Epilog Langit

langit

Epilog Langit

Seumpama permadani terhias butir-butir mutiara Bilqis.

Degup jantungmu hentakkan atap langgar yang hijau kemilau

Kini aku menyaksikan sendiri bagaimana rindu terhampar

tiba-tiba tasbihnya yang kelabu melintasi langit bak kilatan petir menyambar.

Sumur-sumur didadamu ikut tumpah Aku terlena.

Ya benar-benar terlena Dadamu terus mengguncang.

Aku menyangka Adalah kisah langit dan prahara cinta Bilqis pada Sulaiman

yang menjadikan kemarau bukan sebagai musim.

Sementara kisah tetaplah lah kisah katamu,

ia hanya terulang kembali jika kau tak berhenti menapaki perih bangsa ini.

Sungguh aku pilu dalam sendi dan rindu Guru.

Degup jantungmu ramaikan semesta

Sudikah engkau melukiskan kembali pada kening yang hitam kelam ini

renta musim dalam dekapmu menggigil

Sementara luka sejarah tak kunjung pulih.

Aku masih berharap Pada negeri yang gemulai ini

Bambu runcing yang dulu tertancap

dibelakang gubuk sucimu menjulang ke langit

Dan bendera kita berkibar.

Para malaikat hormat Ruh langit dan bumi menyatu

Pintu-pintu tertutup doa

Musim sembunyikan gulita

Sementara purnama bertutur syahdu

Aku lihat dengan mataku sendiri

Mantra-mantra pujangga kisah 1001 Malam

Kembali menutupi relung tasydid

Cinta dan rindu itu mahluk angkasa,

Ucapmu pada kemarau Selagi langit masih setia membiru

Sungai-sungai membeningkan batu

Bintang gemintang tak henti merona.

Kau terus membacakan sumpah palapa

dan membacakan mantra Sidharta Gautama.

Listrik berdenyut Kematian

Jalan-jalan beraspal keringat dan darah

Bising motor dan serapah mulut tukang parkir menutupi kebenaran mataku.

Kini engkau menyemakku

Sedang degub jantungmu menyekam seperti rahasia dalam rahasia.

Guru ! Kini aku tanya.

Siapakah lagi yang Sudi berkisah tentang purnama?

Ahmad Faisol Arifin

#Kepanjen.

4 thoughts on “Epilog Langit

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.