KABAR KABUR KUBUR

KABAR KABUR KUBUR

KABAR KABUR KUBUR

oleh: Ach Dhofir Zuhry

(Pimpinan Jam’iyah Hizbut Tahlil Indonesia)

Pernahkah Anda bertanya: kapankah ilmu(wan) mendapati kebuntuan, bilakah kiranya benda-benda yang disembah nyaris 7 milyar manusia ini mengalami malfungsi, kapan kepandaian, gelar, pengaruh, kekuasaan dan bahkan umat sekalipun mengalami cul-de-sac? Pernahkah Anda merasakan mati sebelum mati?

Untuk menjawab tanya itu, ada baiknya kita mampir ke warung jurnalistik. Di dapur jurnalistik terdapat aturan tak tertulis “man makes news”, siapa yang bikin berita, bukan “apa”. Anda boleh selingkuh dengan seseorang di perut bumi, ternak reptil di Neptunus, dan bahkan liburan ke galaksi Andromeda, tapi Anda “bukan siapa-siapa”, maka yang Anda lakukan “bukan apa-apa”, sehebat apapun itu!

Sebaliknya, Anda hanya terserang flu atau mungkin bisul, tapi Anda seorang figur publik, seorang yang marketable, yang layak-pasar, maka bisul Anda akan viral di media sosial dan mmenjadi isu nasional.

Teranglah kini bahwa yang menjadi kredit penting dalam dunia penyiaran dan pemberitaan bukan obyektivitas nilai, melainkan subyektifitas industrial. Selera pasar tak jauh dari sentimen-sentimen subyektif serta kepentingan-kepentingan terhadap satu altar kekuasaan yang diiris tipis-tipis menjadi opini publik. Hegemoni macam ini lazim disebut jurnalisme absolut, yakni sebuah keadaan di mana dunia jurnalistik menjadi penentu gerak zaman dan alur sejarah.

Praktis, jika di langit terdapat lauh mahfuzh, di bumi ada media massa. Media cetak dan elektronik adalah decision maker. Pers adalah arsitek sejarah. Media-media sosial adalah social engineer. Dan, kabar buruknya manusia tiba-tiba menjadi bagian dari itu semua, tersubordinasi ke dalam itu semua, terkooptasi ke pinggiran itu semua. Pertanyaannya: di manakah akal sehat?

Baik, ketika terjadi intelectual cul-de-sac, manakala terjadi kebuntuan nalar, kita perlu kopi pahit, bahkan jika perlu jamu. Tidak enak dan pahit, memang! Tapi efektif membangunkan kesadaran dan kewarasan. Namun demikian, kopi bukan sembarang kopi, jamu bukan jamu serampangan, baristanya adalah para Begawan dan Resi, tukang raciknya adalah para Sufi dan Kiai, dan bahan-bahan dasarnya warisan para Filosof dan Nabi.

Jangan sampai kabar-kabar yang terus beterbangan di jagad maya ini malah membawa kabur kesadaran dan nalar jernih kita, sebagai manusia dan sebagai Indonesia. Kubur saja berita-berita buruk itu dalam-dalam, sebelum kaum cuti nalar dan para pandir menyebarkannya bak ayat suci.

Jangan lupa, nalar bisa mati karena terlalu lama cuti, pikiran jernih bisa terkubur jika kelamaan libur, hanya penyakit dan kebebalan yang menular dengan cepat, sementara kewarasan pola pikir dan pola sikap, Anda harus sering ngopi bersama meraka yang jernih nalar dan bening budi, bersama orang-orang saleh yang tulus mencintai manusia dan Tanah Airnya. Di sanalah Tuhan bersemayam. Pendek kata, jika batang besi ingin menjadi magnet, Anda harus sesering mungkin menggosokkan kedua ujung besi itu ke masing-masing kutub magnet.

Lalu, kopi pahitnya mana?

Salam Hangat

[18:49, 11/5/2018] Rektor ADZ stf: Utk web luhurian

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.