KEMATIAN

KEMATIAN

KEMATIAN

Oleh: Ahmad Syaikhu NS

Mengawali semangat untuk menebar manfaat dalam ilmu pengetahuan, serta mencoba menuangkan ceramah lama yang baru saya pikirkan untuk ditulis, yaitu tentang kematian. Dia  yang kita bicarakan adalah filsuf terbesar atau boleh kita sebut sebagai Kyai dari  bangsa Barat (bangsa Eropa) yang hidup pasca Immanuel Kant. Pada akhir hidupnya, filsuf ini khusus menulis beberapa buku untuk mengkritik Immanuel Kant, sehingga filsafatnya kemudian dikenal sebagai filsafat Post-Kantian, filsafat pasca Immanuel Kant. Dia juga dikenal sebagai filsuf eksistensialis sekaligus filsuf fenomenologis. Kita tidak akan membicarakan hal-hal yang rumit semacam itu karena kita tidak sedang kuliah filsafat atau tidak sedang dalam kajian Bahlul Masail,[1] kita mencoba tetap konsisten pada tujuan awal pembahasan.

Menurut al-Habib Heidegger, ada dua macam kematian; dan seperti biasa para filsuf Jerman mennggunakan bahasa Jerman untuk menerangkan konsep-konsep yang tidak bisa dijelaskan oleh bahasa lain. Heidegger menerangkan dua macam kematian; yang satu dia sebut sterben, artinya mati, dan satu lagi ia sebut upleben, yang artinya meninggal dunia. Jadi ada dua kematian, yang satu mati yang satunya lagi meninggal dunia, tapi saya kira bahasa Indonesia tidak cukup menggambarkan itu, di samping perbendaharaan kata yang minim, filsuf Jerman juga terkenal dengan konsep-konsep yang kurang bisa terbahasakan oleh bahasa lain.

Kata Heidegger upleben adalah kematian yang datang dengan sendirinya, tidak terbedakan antara kematian manusia dan kematian binatang, kematian tanaman, kematian jam tangan, radio atau mati listrik, itulah uplebe: satu kematian yang tidak bisa kita hindari.

Kematian yang satu lagi disebut sterben, yaitu kematian yang direncanakan, kematian yang mewarnai kehidupannya, karena ia memikirkan bagaimana ia akan mati, maka hidupnya diwarnai oleh pilihan bagaimana ia akan mati. Yang dapat kita simpulkan adalah pertama, semua orang menghindari kematian, atau melupakan kematian dengan mencari hiburan, bekerja segila-gilanya. Atau pada yang kedua yaitu menjemput kematian,  dia berlari menyongsong kematiannya. Ia merindukan saat-saat dia mati seperti yang dia harapkan, seperti yang ia rencanakan.

Mari kita sejenak bijak (sambil membakar rokok dan menikmati kopi): kita ingin mati dengan cara apa? Apakah kita ingin mati ditengah-tengah orang miskin yang kita layani? Apakah kita ingin mati dalam membela kebenaran? Apakah kita ingin mati seperti matinya radio, televisi, arloji, atau tanam-tanaman? Semua akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup sekarang ini.

[1] Salah satu nama forum diskusi para Luhurian, yang liar dan penuh kegilaan!

One thought on “KEMATIAN

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.