KENANGAN MEMUAKKAN

kejam

KENANGAN MEMUAKKAN

Oleh: Ach. Yani

“Betapa banyak cinta buta menghanguskan ribuan cita-cita.

Andaikata mencintaimu aku utamakan daripada cita-cita,

maka kamu adalah orang yang paling terlambat mengisi setengah jiwa yang hilang ini”

Demikian sekilas isi diary sahabat lama yang tak sengaja terbaca. Setelah itu, sangat lama wajah wanita yang sangat aku cintai dulu itu tidak muncul, semenjak pernikahan disahkan penghulu  beserta wakilnya. Kala itu pula diresmikankan dua hal: bermurah ceria dengan suami dan melupakan aku yang menanggung perih luka oleh perjalanan cinta. Perasaan ini yang menyiksa. karena apa? melupakan wajah wanita idaman sama sulitnya dengan mengingat bacaan buku yang akan diceritakan dari isi keseluruhan.

Bagaimana bisa lupa dengan momen tahunan air mata itu, saat di mana perpisahan kita rencanakan, lupa siapapun ketika berduaan, Kenangan foto-foto yang dikatakan lucu, yang sampai menit ini tak kuat aku buang. Ketika waktu libur, dia bawa aku ke tempat yang menyenangkan, sehingga timbul kegembiraan. Mendengar desih angin, menatap bola dunia pada masa depan bola mata kekasih, meresapi kelembutan sunyi pada dentuman malam-malam penuh kisah. Bagaimana mungkin aku melupakan apa yang dia minta “Jangan pernah lupakan kenangan ini untuk nanti” katanya begitu.

Mungkin tidak bisa disebut keseluruhan masa silam yang kelam. Semakin ingatan itu diulang, semakin hati yang lugu dan kaku terbakar, meski tak menangis meneteskan air mata yang meringis. Hati yang selalu melihat tak pernah ada kebohongan, kekhawatiran, dan kecurigaan. Ternyata aku begitu tunduk dan gila, mati rasa beserta buta dengan kengerian yang ia tampakkan dalam kepolosannya. Yang sampai detik-detik berjalan, kebodohan yang berlebihan sangat tetap dirasakan dan tak mau hilang.

Entahlah. aku begitu menyesal dengan apa yang memang keadaan itu tidak pernah aku rencanakan. Tidak pernah ada manusia yang sebelum memulai mengharap kegagalan. Begitu pula aku dan seluruh bayangan muak ini. Kisah yang begitu sederhana di pikiran sangat seram dirasakan.

Tetapi, kedewasaan begitu adil dalam perjalanan (ke)hidup(an). Ia datang pada setiap waktu dengan kerelaan hati yang sangat memaksa. Sepertinya “kutunggu jandamu begitu ambigu dengan luas alam yang tak mampu diukur dengan pikiranku”. Dengan begitu, aku bisa sadar bahwa mengingat kisah muak itu hanya menyia-nyiakan hidup dan buang-buang waktu.

“Tapi dengan begitu, aku tak berani mengungkapkan cinta senyamanku sebagaimana dulu. Kekhawatiran lebih menopang agar kisah yang menakutkan itu tak pernah terulang”

3 thoughts on “KENANGAN MEMUAKKAN

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.