Me-logika-kan Tuhan Versi Imam Ghazali

Salah satu kader militan dari tokoh pemuka aliran Asy’ariyyah, Imam Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini dan lebih tepatnya dikenal sebagai tokoh tasawuf dalam Ahlusunnah selain Imam Junaid Al-Bagdadi, Adalah Imam Abu Hamid ibn Muhammad Al-Ghazali. Di bawah bimbingan Imam Haramain, Imam Al-Ghazali membawa keyakinan prinsip-prinsip utama teologi Asy’ariyyah sampai kematian menjemputnya.

Berangkat dari ajaran Asy’ariyyah yang diadopsi secara matang membawa sosok Imam Ghazali menjadi seorang filosof kontroversial dan pada tingkat tertentu, sebagai seorang asketis. Itu karena, Imam Ghazali mengangkat teologi Asya’ariyyah menjadi basis dialektis dalam upaya merevitalisasi agama, di sisi lain sebagai kerangka aktual bagi pemikiran-pemikiran atau karya-karyanya.

Di tulis dalam kitab auto biografinya “Al-Munqidz min Al-Dhalal” dengan jelas perjalanan hidupnya, baik dari menyelami pemikiran demi pemikiran, aliran demi aliran. Seperti, kaum sofis dan skeptis, filsafat, aliran teologi, bahkan tasawuf itu sendiri, sedikit banyak beliau menyisakan kritik terhadap mereka. Sampai ia menemukan jawaban atas keragu-raguannya dalam dunia asketis. Lebih jelaskan silahkan baca sendiri.

Dari semua itu salah satu pemikiran yang menarik sebetulnya bagaimana epistimologi Imam Ghazali dalam mengenali Tuhannya. Mungkin secara umum karya-karyanya seperti Ihya’ dan Arba’in diorientasikan terhadap pembaruan religius. Tetapi, di kitab tersebut dapat kita temukan citra yang diartikulasikan dengan sempurna mengenai Tuhan, yang esensiNya unik, individual, tanpa sekutu, dan tiada yang menyerupainya satupun… Ia abadi, kekal dalam eksistensiNya.

“Dia (Tuhan) bukan sebuah anatomi fisik yang berbentuk, bukan substansi yang terukur dan terbatas. Tak ada sesuatupun yang menyerupaiNya baik dalam hubungannya dengan keterukuran maupun keterbagiannya. Ia bukan subtansi dan aksiden yang dapat membatasiNya. Tidak ada maujud yang menyerupaiNya ” (Q.S Al-Syura. 42; 11)ليس كمثله شئ ” Tuhan tidak menyerupai sesuatu, kuantitas tidak dapat membatasiNya; tidak ada wilayah yang dapat mengungkungiNya; tidak ada sisi yang mengelilingiNya”.

Konsepsi Tuhan ini, senyampang ditelaah transendensiNya, sangat dekat sekali dengan teologi negatif Mu’tazilah sebagaimana yang diungkap oleh Imam Asy’ariy dalam Maqalatul Islamiyyin-nya, dan membuktikan kemustahilan Tuhan direduksi ke dalam dunia imanensi dan transendensiNya. Jenis teologi negatif seperti itu dalam rangka menghilangkan dari Tuhan dari alam dan tidak memiliki kemungkinan Dia tersentuh oleh jenis kekurangan dan keterbatasan, kesirnaan atau kerusakan.

Tetapi, dalam pandangan Mu’tazilah terdapat bahaya secara implisit, yakni penolakan terhadap sifat-sifat Tuhan yang nyata-nyata antropomorfik (ta’thil), sebagaimana secara eksplisit difirmankan dalam Al-Qur’an, seperti mendengar, melihat dan semacamnya. Namun, Mu’tazilah menjadikan sifat tersebut sebagai EsensiNya, semata untuk menjaga transendensi Tuhan. Nah, Imam Ghazali juga ingin menghindari implikasi semacam itu. Baginya, sifat-sifat Tuhan adalah realitas positif dan sifat tersebut terpisah daru Esensi (dzat )Tuhan :

“Tuhan yang Mahatinggi mengetahui dengan ilmu, hidup dengan hayah, berkuasa melalui kudrah, berkehendak melalui iradah, berfirman dengan kalam, mendengar dengan sama’, melihat dengan bashar. Ia memiliki kualifikasi ini berdasarkan sifatNya yang abadi. Jika seseorang Mu’tazilah berkata bahwa Tuhan mengetahui tanpa pengetahuan, itu berarti mengatakan bahwa menjadi kaya tanpa kekayaan atau ada ilmu tanpa ilmuawan atau mengetahui tanoa objek pengetahuan adalah mungkin”.

Sangat islami sekali Imam Ghazali menggagas tentang Tuhan. Tuhan adalah “pribadi” yang hidup dan berkehendak. Ia yang menentukan takdir manusia dan binatang, bahkan dapat menyengsarakan orang tanpa memberinya pahala. Kendatipun demikian, hal yang perlu diingat bahwa kekuasaan tanpa batas bukan berarti subjektif irasional dalam memilih. Menurut Masimmo Compaini Imam Ghazali mirip dengan konsep Leibniz perihal “yang terbaik dari segala yang mungkin”. Dinyatakan Buku Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam dalam ihya’ terbaca :

“Segala sesuatu yang diberikan Tuhan kepada manusia benar semata-mata, tanpa ada kesalahan di dalamnya. Sesungguhnya, pemberian itu sesuai dengan ketentuan yang niscaya benar, sesuai dengan yang seharusnya dan sebagaimana ia seharusnya, sesuai dengan ukuran yang seharusnya; tidak ada sesuatu pun yang secara potensial lebih bagus dan lebih sempurna daripadanya”

Dalam Arba’in, terungkap: “ada berbagai cara untuk memahami, dengan kesadaran sempurna, kesempurnaan kemurahan dan kebijaksanaan Tuhan. Salah satu di antaranya ialah refleksi atas cara Tuhan memenejemen sebab-sebab yang menentukan akibat. Kita dapat merenungkan pengetahuan tentang putusan dengannya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sekejap mata, dan ketetapan yang menjadi sebab nyata dari perincian-perincian putusan tersebut. Semua itu adalah keputusan-keputusan yang paling sempurna dan terbaik, tidak ada jalan untuk bertindak lebih baik dan lebih mamadai”.

Dengan demikian, berlaku terhadap segala ciptaannya. Tetapi, Imam Ghazali tidak lantas berpandanhan bahwa dunia kita ini yang terbaik yang bisa diciptakan, melainkan sebatas menengaskan bahwa kemahakuasaan Tuhan telah menetapkan bagi alam semesta ini aturan-aturan kerja yang mungkin paling sempurna, sekalipun pada esensinya Dia mampu menciptakan tanpa batas dunia-dunia lain.

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.