MOHON CINTA LAHIR-BATIN

MOHON CINTA LAHIR-BATIN

Oleh: Ach Dhofir Zuhry

Di anatara gema takbir yang menjarang, di antara lantunan Ayat-ayat Suci yang kian parau dan kerontang, aku bertanya pada Tuhan, “Kekasih, di manakah purnama berada? Aku justru gelap setelah puasa, pengap sehabis bertapa!”

Dia menjawab sembari memalingkan muka, “Kusimpan rembulan di hati saudara-saudaramu sebangsa setanah air!”

“Tapi, di antara mereka beda agama, mazhab dan pendapat tentang-Mu selama ini, Tuhan? Mereka jelas-jelas menentang-Mu, mereka adalah musuh-musuh-Mu”

Sekali lagi Tuhan menukas, “bukankah kau dan Aku juga berbeda, Aku yang menghasrati perbedaan-perbedaan itu, Nak. Jangan menghakimi mereka dengan kebodohanmu itu! Kamu manusia, bukan Tuhan!”

“Oh…”, aku terduduk, tertunduk, tertusuk.

“Maafkan dirimu sendiri sebelum meminta maaf pada saudara-saudaramu, dan berharap ampunan-Ku. Belajar filsafat dan tasawuf lagi, latihan lagi, puasa lagi, Ramadan hanya latihan olah jiwa dengan menahan diri, puasa yang sesungguhnya 11 bulan setelahnya, jangan bangga dengan kebodohan yang kau kira sebagai amal! Kalau kau berteriak-teriak seperti mereka yang awam itu, apa bedanya kau dengan mereka?!”

“Oh, Kekasih, maafkan!”

“Apa, apa, kau panggil Aku apa!? Kekasih? Aku memang Maha Pengasih, tapi Aku belum tentu Kekasihmu. Boleh jadi Aku kekasih orang-orang yang kau kafir-kafirkan itu.”

“Lo, kenapa, Tuhan?”

“Sebulan penuh kalian mengusik saudara-saudara kalian yang beda agama dengan puasa yang kalian sangka puisi. Kalian menyembah-nyembah Ramadan, bukan menyembah-Ku. Tetangga kalian yang beda agama atau mungkin sedang sakit dan kaum papa jelas-jelas terganggu oleh pengeras suara dan keriuhan belanja dengan modus memuliakan Ramadan.”

“Oh, Kekasih maafkan, maafkan.

Saudaraku se-Indonesia, maafkan saya.”

“Kurangi dosis serakahmu dengan puasa sepanjang usia, belajar lapar lagi agar hidup bisa berbagi!”

Kira-kira, demikianlah dialog imajiner antara saya dengan Tuhan, setelah dapat sinyal internet.

جعلنا الله واياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وانتم بخير

[Semoga Tuhan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali ke fitrah, bahagia karena selalu berpijak dan ingat tanah, diterima segala amal yang antah berantah, dan sepanjang tahun dianugerahi kebaikan berlimpah.]

Memaafkan adalah hadiah yang Anda berikan kepada diri Anda sendiri. Menyalahkan hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Anda mungkin berhasil membuat orang lain merasa bersalah, tetapi Anda tidak akan berhasil mengubah apapun yang membuat Anda tidak bahagia.

Memaafkan adalah cara Tuhan percaya pada hamba-hambaNya, memaafkan adalah kemenangan terbesar, memaafkan adalah pembalasan paling mulia untuk para pembenci dan pencaci.

Selamat Idul Fitri 1439 H/2018, mohon Cinta Lahir dan Batin.

One thought on “MOHON CINTA LAHIR-BATIN

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.