PERAN

peran

PERAN

Oleh:  Ach Dhofir Zuhry

Pesantren adalah institusionalisasi atau pelembagaan dari model pendidikan tradisional di mana majelis ilmu dan majelis dzikir menyatu dan mendapati ruangnya. Di samping itu, para santri dibekali pendidikan karakter luhur (akhlaq al-karimah) berbagai life skill oleh Kiai dan para ustadz untuk ia bermasyarakat nantinya jika pulang (boyong) dari Pesantren. Kelak, pendidikan yang melembaga bernama pondok Pesantren ini sangat dicintai oleh masyarakat pribumi dan dibenci oleh para penjajah.

Rerata, Pesantren-Pesantren di Indonesia sangat independen dan mandiri, sebagian memang tidak mau disubsidi oleh para pejabat, bahkan pemerintah hingga kini belum mau mengakui ijazah Pesantren sebagaimana pendidiakan model schooling system ala Belanda yang menjadi kurikulum nasional. Oleh karena itu, Pesantren diberi stigma sebagai pendidikan non formal, bahkan belakangan dituduh sebagai sarang teroris. Sehingga, lulusan Pesantren tidak mendapat “panggung” di ruang-ruang publik layaknya pendidikan formal.

Upaya mempersempit ruang gerak Pesantren ini—selain oleh sistem kolonoalisme Belanda—bahkan oleh pemerintah Orde Baru. Ada semacam kanalisasi bagi kaum santri atau kaum sarungan untuk hanya memberi jatah “doa” di setiap acara-acara seremonial. Dengan kata lain, kaum santri hanya dibutuhkan pada masa perang kemerdekaan untuk mengusir penjajah. Setelah memasuki masa pembangunan, Pesantren diabaikan dan bahkan dipolitisasi sedemkian rupa atau bahkan dijadikan tumbal. Kini, setelah industrialisasi mulai lesu dan manusia modern mulai kehilangan hakikat dirinya, Pesantren dibutuhkan lagi untuk memanusiakan manusia. (ta’nis al-insan).

Pesantren sejak mula merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai pekerti luhur dan penyiaran https://id.wikipedia.org/wiki/IslamIslam. Namun demikian, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasi mobilitas vertikal (dengan penjejalan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kepekaan sosial). Pesantren tidak hanya berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga menerapkan kurikulum yang menyentuh persoalan kekinian masyarakat (society-based curriculum) yang cenderung membumi. Dengan demikian, Pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespon carut-marutnya persoalan masyarakat di sekitarnya.

Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Banyak Pesantren di Indonesia hanya membebankan para santrinya dengan biaya yang rendah, bahkan gratis sama sekali, meskipun beberapa Pesantren modern dengan memadukan kurikulum Negara membebani dengan biaya yang lebih tinggi. Namun demikian, jika dibandingkan dengan beberapa institusi pendidikan lainnya yang sejenis, Pesantren modern jauh lebih murah. Sementara itu, organisasi massa (ormas) Islam yang paling banyak memiliki Pesantren adalah Nahdlatul Ulama (NU). Ormas Islam lainnya yang juga memiliki banyak Pesantren adalah Washiliyah dan Hidayatullah. Namun demikian, perantren ala NU inilah yang telah mendunia, dikenal oleh masyarakat dunia sebagai lokomotif bagi terjadinya toleransi dalam kehidupan beragama di Republik ini. Dan, kabar baiknya, dunia telah dibuat tercengang oleh Pesantren dan mulai mengadopsi cara-cara Pesantren dalam mendidik santri dan mencerdaskan umat.

Di sisi lain, keberadaan Pesantren—selain sebagai lembaga pendidikan alternatif—sejak mula berdirinya adalah sebagai bentuk perlawanan atas kemapanan. Jika dahulu Pesantren sangat berperan dalam perjuangan kemerdekaan untuk mengusir penjajah, maka saat ini Pesantren adalah counter terhadap kesombongan dalam dunia pendidikan modern yang hanya memprioritaskan mereka yang beruang dan kalangan elit. Nah, ketika lembaga pendidikan ala Belanda yang dianut Negeri ini semakin gila-gilaan dengan biaya selangit, Pesantren tetap konsisiten “mengulurkan tangan” untuk mendidik kalangan menengah ke bawah.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.