PSIKO-SOSIO-ETNO-HIPNO-AUTO-KLEPTO-KEPO-COMPO-COMBO-KRIBO-EMBRIO-KROCO-CORO-MIKRO-NYINYIROLOGI (bag. 1)

PSIKO-SOSIO-ETNO-HIPNO-AUTO-KLEPTO-KEPO-COMPO-COMBO-KRIBO-EMBRIO-KROCO-CORO-MIKRO-NYINYIROLOGI (bag. 1)

oleh: Ach Dhofir Zuhry*

Pepatah Arab klasik mengatakan, kullu sâqith lâqith (setiap benda jatuh, pasti ada yang memungut), demikian juga hoaks, isu-isu murahan para politisi, bualan para pengepul borok-borok pejabat, pun juga kentutnya artis dan sosialita. Bahkan, ada penyedia jasa khusus dan pabrik-pabrik penjual berita bohong di Negeri ini. Kabar buruknya, internet dan medsos sangat memberi ruang bagi berlangsungnya “jualan gorengan” itu.

Setelah melakukan riset iseng-iseng sekian purnama dan beberapa gerhana di dunia maya, terutama di tahun-tahun penuh tipu-tipu ini, saya mendapatkan wangsit langsung dari planet Neptunus untuk menyampaikan satu jenis epistemologi baru di dunia permedsosan, khususnya generasi milenial yang genit tapi ugal, sotoy tapi banal. Ilmu itu saya beri nama ilmiah psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-mikro-nyinyirologi. Nama latin dari jurus ini adalah “de los ndobos ngantos talpos nyerocos”.

Apakah istilah tersebut terdengar karib di telinga Anda? Jangan-jangan Anda bagian dari itu, Kisanak? Kalau tidak, Anda sudah seusia saya, nyaris tua!

Baiklah, Kisanak. Mengapa tidak sedikit di antara kita yang masih bertengkar dengan diri sendiri dan orang lain perihal yang remeh-temeh dan sepele, harus bagaimana dengan serbuan bertera-tera bit informasi sampah dan receh yang mengepung akal sehat kita tiap sepersekian detik?

Karuan saja, tidak ada yang lebih sulit dari menyadari (kealpaan) dan lalu memulai (perbaikan). Anda tentu masih ingat dengan ujar-ujar lama bahwa perjalanan sejauh seribu mil dimulai dengan satu langkah, bukan?

Betapa banyak gagasan-gagasan cemerlang dan pemikiran brilian yang mengendap dan sama sekali nihil tanpa tindakan konkret, sementara kita hanya sibuk berselancar di dunia (paling) maya? Selamat datang di dunia nyata! Sering-seringlah menjadi manusia dan menjumpai manusia, bukan akun medsosnya! Internet itu mubah, halal, menjadi haram dan memabukkan jika kita konsumsi secara berlebihan, serampangan dan mengabaikan akal sehat.

Demikian memang, kesalahan terbesar umat manusia adalah berpikir tanpa bertindak dan atau sebaliknya bertindak tanpa (dimulai dengan) berpikir. Inilah teori dalam ilmu psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-nyinyirologi bagian pertama.

Sehebat apapun yang Anda gagas dan Anda inginkan, tidak akan pernah mengalahkan yang Anda lakukan. Jangan lupa, tindakan adalah pikiran yang bergerak, bukan tergeletak dan lalu mengendap di almari ide-ide, itupun kalau punya!

Memang, langkah-langkah yang Anda tempuh, kadang ditolak bukan oleh orang lain, tetapi oleh diri Anda sendiri. Apa sebab? Setiap memutuskan untuk melakukan hal ”baru”, diri Anda yang ”lama” pasti menolak. Padahal, idealnya, setiap orang seharusnya melakukan dua hal dengan sungguh-sungguh: (1) mengerjakan hal yang sangat ia sukai, dan (2) mengerjakan hal yang sangat ia benci. Kok bisa? Bisa kok!

Ini praktis terdapat dalam keseharian kita yang 16-18 jam dalam sehari terhubung dan lamat-lamat terbunuh dengan internet: yang kita suka—khususnya melalui medsos—adalah fitnah dan adu domba bukan menahan diri, yang kita mau adalah menguasai dan bukan berbagi, yang kita hasrati bukan perbaikan tapi kehancuran diri sendiri dan seluruh Negeri, yang kita inisiasi bukan pencerdasan dan pencerahan tapi pembodohan sekian generasi, yang kita tebar bukan kasih untuk kemanusiaan dan keindonesiaan tapi pemborosan sumberdaya dan energi, bukan kedamaian dan menarik diri dari kegaduhan tapi ikut ambil bagian untuk menenggelamkan bahtera besar bernama Nusantara, bukan pula berderma, bukan peduli, bukan mawas diri, bukan… Inilah mengapa ilmu psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-nyinyirologi penting Anda ketahui, Kisanak!

Tak jarang, Anda marah ketika dipaksa menyetujui dan melakukan hal baru yang sangat menyentuh dasar ego Anda, meski itu perintah agama dan kewajiban dari Negara. Bukankah agama dan Negara memang jauh lebih “kecil” bagi keserakahan manusia? Bukankah sumberdaya alam dan kekayaan Indonesia ini tak pernah cukup bagi satu-dua orang serakah?

Marah dan lalu nyinyir adalah keadaan di mana lidah bekerja lebih cepat dari pada pikiran, dan tindakan lebih cepat dari nurani. Tiba-tiba kita mendapati diri sebagai pengeluh, peratap, pembosan, penebar berita bohong, pengadu kambing dan lantas menyeret-nyeret Tuhan demi perut, kalamin dan kepuasan tak berujung lainnya.

Ini dilematis, diri Anda yang lama selalu menghasrati zona aman dan nyaman, konon, demikianlah kinerja nafsu, Kisanak! Sekali lagi, inilah mengapa kita tak cukup bertemu dengan diri sendiri, tetapi juga harus berjumpa, menempa dan membangun diri. Memenangkan akal sehat dan kewarasan memang tak pernah mudah!

Akal sehat dan tentu saja agama adalah piranti untuk meredam semua itu, semua psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-nyinyirologi. Kalau bisa mendayagunakan akal sehat dan menjalankan agama dengan baik, sesuai dosis, kita lulus menjadi khalifah, bukan sekadar hamba. Apa sebab? Karena hamba hanya untuk diri sendiri, semantara khalifah demi orang banyak, bahkan Negara.

Nabi Saw mengingatkan bahwa masing-masing kita adalah pemimpin. Logika lugunya, tidak seorang pun akan mengikuti Anda jika Anda tidak tahu ke mana dan bagaimana harus melangkah, lantas hanya nyinyir sampai tua. Benarkah? Tunggu serial ilmu psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-nyinyirologi berikutnya!

Mana kopi?!

___

*Penulis adalah ketua STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen. Buku terbarunya yang sudah beredar di seluruh toko bangunan di Indonesia adalah KONDOM GERGAJI dan PERADABAN SARUNG (Veni, Vidi, Santri)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.