PSIKO-SOSIO-ETNO-HIPNO-AUTO-KLEPTO-KEPO-COMPO-COMBO-KRIBO-EMBRIO-KROCO-CORO-MIKRO-NYINYIROLOGI (bag. 2)

PSIKO-SOSIO-ETNO-HIPNO-AUTO-KLEPTO-KEPO-COMPO-COMBO-KRIBO-EMBRIO-KROCO-CORO-MIKRO-NYINYIROLOGI (bag. 2)

PSIKO-SOSIO-ETNO-HIPNO-AUTO-KLEPTO-KEPO-COMPO-COMBO-KRIBO-EMBRIO-KROCO-CORO-MIKRO-NYINYIROLOGI (bag. 2)

oleh: Ach Dhofir Zuhry*

Pada sesi kedua dari psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-mikro-nyinyirologi, saya akan sampaikan bahwa tidak ada yang nyinyir dan lalu merendahkan manusia selain dirinya sendiri. Tidak ada yang akan menghambat kejayaan bangsa Indonesia selain oknum-oknum tempurung jahat dari bangsa Indonesia sendiri. Demikian pula Islam, tidak ada yang merintang-halangi keluhuran agama ini, selain umat dan penganutnya sendiri yang berotak cingkrang. Bagaimana membuktikan bahwa pernyataan ini benar?

Penemuan terbesar bangsa manusia—di samping menemukan dirinya sendiri— adalah menemukan sesuatu yang tadinya dianggap mustahil. Memang, demikianlah hukum sebab-akibat berujar: untuk menemukan Anda harus mencari, tak cukup merentangkan mata, tapi juga pikirkan dan hati. Ketajaman mata, kejernihan pikiran, dan kebeningan hati adalah piranti untuk manusia terhubung dengan segala hal dengan baik dan benar.

Nah, pertanyaannya: apakah manusia harus melakukan hal-hal yang tidak mungkin, sementara hal-hal yang mungkin kadang malas digagas?

Kisanak, jika penemuan terbesar umat manusia adalah bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka sangka tak bisa, maka, tak ada yang lebih sulit selain menemukan diri sendiri. Lantas, apa yang menghambat? Nyinyir, titik!

Takut gagal sama dengan membatasi kemampuan, takut ditolak calon mertua, takut membangun desa dan mencerdaskan generasi muda, takut berpikir dan berperasaan positif, takut, takut… Ini pelecehan atas anugerah Tuhan bernama akal sehat. Inilah inti psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-mikro-nyinyirologi  yang kedua.

Kegagalan terbesar adalah apabila manusia tidak pernah mencoba menemukan kejernihan hidup dengan terus mendayagunakan akal budi alias cuti nalar. Praktis, mereka yang cuti menggunakan akal budi, tak lain adalah bungkus micin yang bernyawa dan paling lantang teriak ngaku-ngaku manusia, mengklaim paling beragama dan tentu saja memonopoli surga!

Tapi, bagaimanakah agar tetap waras di tengah ketakwarasan ini? Memang tak mudah mempertahankan kemanusiaan dan kewarasan. Kuncinya, biasakanlah untuk berpikir bahwa pencapaian hanya tinggal selangkah lagi dan pasti akan diraih. Tapi, bukankah setiap langkah penuh resiko? Setiap tindakan tidak ada garansi berhasil? Tidak ada jaminan kesuksesan, memang, namun tidak mencobanya adalah jaminan gagal seratus persen. Anda takkan tahu apa yang tak dapat Anda lakukan, sampai Anda mencobanya, sampai batas kemampuan. Maka, Tuhan “menghadiahkan” bencana, trial and error demi kebaikan dan pendewasaan manusia semata. Bukankah nyinyir hanya buang-buang usia dan menghamburkan sumber daya?

Kegagalan (dalam hemat saya yang sering gagal) hanya situasi tak terduga yang menuntut transformasi dalam makna positif. Ingat, Amerika Serikat merupakan hasil dari kegagalan total sebab Columbus sebenarnya ingin mencari jalan ke Asia.

Banyak orang yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan keberhasilan dan kemenangan tapi sayangnya, mereka kemudian menyerah, kalah oleh nafsu dan amarah, lalu menjadi sampah. Jika, prinsip ini terdengar akrab bagi Anda, maka psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-mikro-nyinyirologi ini telah sampai di level wajib untuk Anda ketahuai.

Lazimnya, para nyinyiriyyin atau nyinyirers adalah mereka yang mulutnya lebih lantang daripada kecerdasannya. Mengapa? Karena mereka memang cuti berpikir dan libur menalar: merekalah bungkus micin bernyawa. Bisanya kaum bungkus micin lebih sibuk berdebat tentang bungkus dan mempertengkarkan hal-hal sepele tanpa substansi. Mereka tidak memiliki tujuan jangka panjang, sehingga kerap merasa frustrasi dan nyinyir dengan kegagalan jangka pendek. Well, kegagalan adalah gaya hidup mereka.

Sejatinya, kaum pentol korek dan sumbu pendek adalah kembaran para nyinyirers milenial. Kaum bumi datar adalah sepupu meraka. Bani ngamukan juga kakak kandung meraka. Wal-hasil, kaum cuti nalar itu tak jelas orientasi hidupnya selain nyinyir, nyinyir dan sekali lagi nyinyir sampai tua. Mengapa? Karena mereka tak punya orientasi hidup.

Jadi, bukan kendala dan rintangan yang menghalangi seseorang untuk sampai ke tujuan, tetapi mula-mula tanyakan kepada diri sendiri, jangan-jangan Anda memang belum punya tujuan. Lantas, apa bedanya dengan kaum cuti nalar itu?

Soal doa, harapan dan kesalehan yang belum terlaksana karena terus-terusan nyinyir? Hanya ada satu bukti bahwa doa Anda terkabul: tindakan!

Soal lain-lain? Ah, Anda bukan orang lain, Anda adalah diri Anda sendiri!

Berhentilah membaca tulisan ini, berhentilah nyinyir, dan tunggu serial psiko-sosio-etno-hipno-auto-klepto-kepo-compo-combo-kribo-embrio-kroco-coro-mikro-nyinyirologi berikutnya!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.