SEBERAPA GARAMKAH ENGKAU?

SEBERAPA GARAMKAH ENGKAU

SEBERAPA GARAMKAH ENGKAU?

oleh: Ach Dhofir Zuhry

“Di antara sikap moral yang paling penting adalah memercayai diri sendiri, dan lalu orang lain. Sebab, Anda tidak bisa percaya apapun dan siapapun, sebelum percaya diri sendiri.”

Orang dengan segudang pengalaman dan wawasan sering kali disebut telah makan asam-garam kehidupan. Dengan kata lain, ia telah banyak mencicipi dan mengalami pahit-getir hidup, suka-duka kehidupan yang tentu saja menguras energi, memeras keringat dan mendulang air mata.

Di sisi lain, sangat berserakan mereka yang berpendidikan tinggi tapi justru moralnya rendah, tidak sedikit kaum terpelajar yang masih “hijau” dan miskin pengalaman, kerap kali gugup dan gagap mengarungi gelombang kehidupan. Lagi-lagi faktor “garam” sebagai bumbu dan penyedap utama dalam menu-menu kehidupan kembali menentukan.

Ya, asin (karena terlalu banyak) atau sedap (karena sedikit) menjadikan garam sebagai kekuatan penyeimbang bagi dinamika hidup. Ia akan terus bersenyawa dengan tiap tarikan nafas serta berpilin dengan ornamen-ornamen kehidupan, terutama, bagi manusia-manusia modern. Buktinya? Cobalah minum segenggam garam dapur yang sudah dilarutkan dalam segelas air lalu katakan bagaimana rasanya? Anda akan segera memuntahkannya karena terasa pahit, asin dan getir yang menyengat lidah. Begitulah kira-kira bahwa pengalaman dan kedewasaan berpikir serta matangnya pola sikap tidak bisa kita “reguk” sekaligus secara instan, perlu waktu dan proses, dari sekadar ada (being) dan berproses agar menjadi (becoming).

Nah sekarang, dengan segenggam garam di tangan cobalah datang ke tepi telaga atau danau yang tenang. Taburkan segenggam garam itu ke dalam telaga, larutkan dengan sepotong kayu, buatlah gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, sekarang minumlah di tempat Anda mengaduk tadi, bagaimana rasanya? Bukan asin, pahit atau ketar yang menyengat lidah, tapi justru air telaga tetap segar terasa. Pertanyaanya: kemanakah segenggam garam tadi?

Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Kadar dan rasa pahit itu sama, dan memang tidak berubah. Rupanya, pahit-getir kehidupan tak lain adalah hasil dari perbuatan manusia di masa lalu. Siapa menanam dia memetik, siap menabur dia menuai. Ada akibat pasti didahului sebab. Karana itu, kalau mau berhasil, harus mau berkeringat. Demikianlah common sensehukum alam. Akan tetapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, gelas atau telaga. Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan: rentangkan pikiran dan lapangkan dada menerima semuanya. Luaskanlah hati untuk menampung setiap kepahitan itu. Jangan nmenjadi sekadar gelas, jadilah telaga!

Hati adalah telaga itu, pikiran dan perasaan positif adalah alat untuk mengaduk-aduk serta menetralisir kadar garam, kalbu atau lubuk hati adalah tempat manusia menampung dan melarutkan segalanya, bahkan ilmu dan iman. Jadi, jangan jadikan hati itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Intinya adalah semua masalah tergantung pada isi kepala dan muatan dada Anda, tergantung pola pikir dan pola sikap Anda. Bagaimana memulainya?

Ambil jarak dengan pikiran Anda, karena Anda bukanlah pikiran Anda! Apapun yang Anda pikirkan tentang Anda adalah bukan Anda. Pikiran, tak jarang, cenderung menghambat dan menyabotase diri. Pikiranlah yang menyebabkan segala kekacauan dan kegalauan, apa sebab? Karena pikiran jauh lebih cepat diracuni dari pada tubuh. Perbaiki sebelulm terlambat, sudahi dan insyafi segala kegilaan sebelum berkarat, agar Anda mendapat kendali yang baik dalam menjalani kehidupan. Andalah penguasa atas pikiran Anda, bukan sebaliknya, pikiran yang menguasai Anda.

Bukankah besar-kecil persoalan dan tantangan hidup sangat relatif bagi setiap orang? Tidak banar kalau kita menganggap persoalan kitalah yang paling berat dan pelik. Bukankah Tuhan juga menganugerahkan kesangupan untuk kita menghadapi dan mengatasi segala persoalan, di sini dan sekarang. Lagi-lagi, betapapun besar persoalan dan dosa-dosa umat manusia, cinta-kasih dan ampunan Tuhan jauh lebih Mahabesar dari apapun dan siapapun saja.

Salam dan doa untuk Anda

#makamtanmalaka
#sarkub

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.