WAHDATUL WUJUD: EPISTEMOLOGI PARA SINGLE

WAHDATUL WUJUD PARA SINGLE

Oleh: Ach. Khoiron Nafis

Sesungguhnya tidaklah sama antara “single” dan “jomblo”. Yang pertama status mahmudah (terpuji), sedangkan yang terakhir termasuk status madzmumah (tercela). Single adalah kondisi jiwa seseorang yang tidak mau menyekutukan diri (syirk) dengan orang lain. Sementara jomlo merupakan ketakmampuan jiwa mendapatkan apa yang dihasrati, sehingga ia terjerembab pada situasi tanpa pasangan. Dengan demikian para single adalah Ahlut Tauhid (masyarakat ‘monoteistik’), tetapi jomblo adalah mereka yang hendak menyekutukan diri namun belum terlaksana.

Dalam pada itu, mereka semua boleh disebut sebagai pemilik status ‘Wahdatul Wujud’.  Dengan pengertian bahwa “wahdah” adalah “satu/ tunggal/ single” dan “wujud” diartikan “status”, sebagaimana pandangan Ghairu Imam al-Asy’ari yang menyatakan bahwa wujud merupakan haal (kondisi/ status). Jadi makna “wahdatul wujud” di sini ialah “status single“.

Selanjutnya, ada Taskikul Wujud (Gradasi Status), walaupun semuanya memiliki status tapi kualitas satu dan lainnya berbeda. Single di posisi teratas, lalu jomblo biasa, jomblo ngenes, jomblo lailatul qadar (awet selama seribu tahun) dll.

Walaupun berbeda, hampir semuanya memiliki kemendasaran status yang sama. Inilah yang disebut Ashalatul Wujud (Kemendasaran Status). Sebab apapun nama dan jenisnya, tetap saja semuanya tak berpasangan. Hanya saja ada yang mengalami keadaan demikian dengan motivasi fokus dengan pengetahuan, bertaqarrub dengan kebenaran, yang lain karena sedang ditimpa nasib jahat, dan hal yang sejenis itu.

Begitulah kira-kira lelucon para masyarakat monoteis yang akhir-akhir ini kian meramaikan status sosial di sekitar kita.

 

Wallahu A’lam..

2 thoughts on “WAHDATUL WUJUD: EPISTEMOLOGI PARA SINGLE

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.